X
BRIDGING WORLDS: HOW CONTEMPORARY EUROPEAN CINEMA FOUND A DEVOTES HOME IN INDONESIA
A full house at Cinepolis Senayan Park, Jakarta, during the closing ceremony of Europe on Screen 2026. The 11-day festival expanded its reach to eight cities across Indonesia (doc. By EoS 2026) Librarypost.com Jakarta | Inside the dimly lit theaters of Senayan Park, the quiet rustle of a closing crowd marked the end of an ambitious…
VOICE FROM MARGINS: INDONESIA’S NEW WAVE OF FILMMAKERS PREMIERES AT EUROPE ON SCREEN
Emerging Indonesian directors celebrate the global debut of their Short Film Pitching Project (SFPP) winning films at Erasmus Huis, Jakarta (doc. By EoS 2026) Libraryppst.com Jakarta | In a cinematic landscape often dominated by commercial blockbusters, a quieter, deeply personal cinematic revolution is taking root in Indonesia. Europe on Screen (EoS) 2026 officially unveiled the highly…
BEYOND THE SCREEN: EUROPE’S LONGEST RUNNING FILM FESTIVAL IN INDONESIA RECLAIMS THE POWER OF SHARED HUMANITY
Mr. Stéphane Mechati, Chargé d’Affaires a.i. of the European Union Delegation to Indonesia, delivering the opening address at the 2026 Europe on Screen Film Festival in Jakarta (doc. By EoS 2026). Librarypost.com Jakarta | Against the backdrop of an increasingly fractured global landscape, cinema’s power to bridge deep cultural divides took center stage on Thursday evening. The…

LAPAK BACA KOMUNITAS OKL STREET LIBRARY BERKOLABORASI DENGAN LANSIA WANITA DESA RAILOR UNTUK MELESTARIKAN TRADISI MENGANYAM DAUN LONTAR

Bei Bui Hoar dan Bei Bita bersama anak-remaja pesisir inklusif, di hari kedua pelatihan dasar menganyam daun lontar khas Malaka (ft. OKL)

OKL-Library.com Malaka | Usia bukan alasan untuk berhenti beraktivitas. Walaupun sudah usia lanjut, namun masih sangat aktif untuk menganyam daun lontar. Tak butuh waktu lama, sebuah kipas dan nyiru dari daun lontar tercipta dari jemari Bei Bui Hoar (84) dan Bei Bita (82).

“Ini kipas, yang dibikin biasanya kalau cuaca panas untuk kipas-kipas,” ungkap Bei Bita saat pelatihan dasar anyaman khas Kabupaten Malaka, untuk anak-remaja pesisir inklusif di Lapak Baca Komunitas OKL Street Library Selasa, (9/8/2022).

Bei Bita saat membimbing anak-remaja pesisir inklusif pada pelatihan dasar menganyam khas Kabupaten Malaka (ft. OKL)

Bagi Bei Bui Hoar dan Bei Bita, aktivitas tradisi menganyam khas Kabupaten Malaka membuat mereka merasa lebih aktif dan produktif. Selain masih aktif bertani, berkebun dan beternak, namun mereka pandai menempatkan waktu senggangnya dengan menyibukkan diri untuk menganyam daun lontar.

“Tradisi menganyam daun lontar ini merupakan tradisi turun temurun. Tradisi ini sebagai warisan leluhur yang harus terus dilestarikan ke anak-cucu,” tutur Bei Bui Hoar saat membimbing anak-remaja pesisir inklusif dalam pelatihan dasar menganyam di Lapak Baca Komunitas OKL Street Library (9/8).

Bei Bui Hoar saat membimbing anak-remaja pesisir inklusif pada pelatihan dasar menganyam khas Kabupaten Malaka (ft. OKL)

Bei Bui Hoar dan Bei Bita adalah dua dari sekitar 80 lansia di Desa Railor. Tradisi menganyam lontar adalah aktivitas sehari-hari mereka. Selain tradisi menganyam nyiru, kipas, topi dari daun lontar, mereka juga menganyam jenis lainnya seperti keranjang untuk upacara adat.

Founder Lapak Baca Komunitas OKL Street Library, Oktavianus Klau Lekik, mengatakan para lansia di Desa Railor perlu perhatian sehingga mereka tetap aktif dan produktif.

Menurut Oktavianus, para lansia di Desa Railor, setiap ada tradisi adat, mereka terlibat menyiapkan berbagai keperluan keranjang untuk upacara adat. Sehingga kolaborasi ini akan terus berlanjut, paling tidak sebulan sekali membuka kelas tradisi menganyam di Lapak Baca Komunitas OKL Street Library.

Selain pada kolaborasi tradisi menganyam daun lontar, kami juga akan menjalin kerja sama dengan dinas kesehatan atau Posyandu, sebulan sekali pelayanan kesehatan untuk para lansia di Desa Railor agar mereka tetap sehat dan aktif, tutup Oktavianus. (By OKL)

Library Post: Oktavianus Klau Lekik, M.Med.Kom. is a Social Architect, Researcher, and the Founder of OKL Foundation. With a 19-year career in strategic communication, he is currently a Research Presenter at the University of Oxford (2026). His work bridges global academic frameworks from University of Amsterdam, Leiden University to Harvard University with grassroots social innovation in Indonesia's frontier. Connect with him on LinkedIn