X
BRIDGING WORLDS: HOW CONTEMPORARY EUROPEAN CINEMA FOUND A DEVOTES HOME IN INDONESIA
A full house at Cinepolis Senayan Park, Jakarta, during the closing ceremony of Europe on Screen 2026. The 11-day festival expanded its reach to eight cities across Indonesia (doc. By EoS 2026) Librarypost.com Jakarta | Inside the dimly lit theaters of Senayan Park, the quiet rustle of a closing crowd marked the end of an ambitious…
VOICE FROM MARGINS: INDONESIA’S NEW WAVE OF FILMMAKERS PREMIERES AT EUROPE ON SCREEN
Emerging Indonesian directors celebrate the global debut of their Short Film Pitching Project (SFPP) winning films at Erasmus Huis, Jakarta (doc. By EoS 2026) Libraryppst.com Jakarta | In a cinematic landscape often dominated by commercial blockbusters, a quieter, deeply personal cinematic revolution is taking root in Indonesia. Europe on Screen (EoS) 2026 officially unveiled the highly…
BEYOND THE SCREEN: EUROPE’S LONGEST RUNNING FILM FESTIVAL IN INDONESIA RECLAIMS THE POWER OF SHARED HUMANITY
Mr. Stéphane Mechati, Chargé d’Affaires a.i. of the European Union Delegation to Indonesia, delivering the opening address at the 2026 Europe on Screen Film Festival in Jakarta (doc. By EoS 2026). Librarypost.com Jakarta | Against the backdrop of an increasingly fractured global landscape, cinema’s power to bridge deep cultural divides took center stage on Thursday evening. The…

RESENSI: TUJUH KEUNGGULAN ALBUM ”ANUGERAH HARMONI”, KONSEP ROCK TO METAL DARI LAWANG PITU MENURUT PENGAMAT MUSIK INDONESIA

LibraryPost.com Badung | Mendengarkan karya terbaru dari band metal Lawang Pitu (L7), sama serunya seperti menyaksikan show mereka secara live.

Hal ini bisa terjadi karena ada 7 (tujuh) keunggulan dari Debut Album L7 yang bertajuk “Anugerah Harmoni” dari 10 soundtrack, yang dirilis di Hard Cafe Bali, 14 Juni 2024.

Lantas, apa saja tujuh keunggulan menurut pengamat musik tanah air, Buddy Ace?

Berikut resensi musik lawang Pitu menurut Buddy Ace!

Mari kita mulai dengan keunggulan yang pertama, yakni pada formasi personilnya.

Sejak berdiri tahun 2022, barisan squadron Lawang Pitu, yang di arsiteki oleh Asisi ‘ACC’ Basuki, lahir dengan konsep musik metal yang kental. Bersama Tommy Karmawan (gitaris band rock n roll Garux), Sadtriyo (gitaris alumnus Junior-Koes Plus) dan Arief Rahman (Drum) mereka memainkan karya agung dari King Of Metal, Metallica.

Tak puas hanya menjadi epigon Metallica, Asisi menawarkan konsep musik karya mereka sendiri. Lalu terkumpullah 12 lagu, kemudian dipilih 10 track yang terbaik untuk masuk dalam debut album mereka.

Keinginan kuat untuk menjadi band metal dengan karya sendiri, mendapat sambutan dari legendaris Doddy Katamsi – alumnus; ‘Elpamas’, ‘Kantata’, dan band Rock Classic, ‘Seven Years Letter’, yang kemudian dipinang menjadi vokalis yang melantunkan 10 karya terbaik L7.

Namun, Doddy hanya enam bulan bersama Lawang Pitu, ia mengundurkan diri dengan alasan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan bagi dirinya untuk mengikuti semua kegiatan L7.

Tak hanya Doddy, Tommy pun cabut, karena ingin alih profesi menjadi pelukis di Yogyakarta.
Ia meninggalkan jejak karya pada L7 berupa 9 lagu yang diciptakan bersama ACC dan Sadtriyo dan sebuah karya logo ‘L7’ yang unik dan bernuansa metal.

Perubahan signifikan pun dilakukan, untuk memborbardir kuping para metal heads, dengan gelegar karya dan idealisme musikal mereka. Pilihan pun jatuh ke Trison Manurung (vokalis ‘Roxx’ dan alumnus ‘Edane’) untuk menggantikan Doddy Katamsi, serta gitaris Jibonez, untuk menggantikan Tommy.

Keunggulan kedua, pada vokalis. Peran penting dari Trison Manurung, sebagai vokalis, dalam album “Anugerah Harmoni” ini menjadi sangat penting.

Namun, identitas band Roxx dan Edane dalam diri Trison, memang tak terhindarkan. Sehingga, selama 1 bulan penuh ia menaklukan 10 lagu L7, dan menyanyi dengan cara yang berbeda. Coba simak lagu Takdir. Disini Trison, menyatu dalam lirik ciptaannya sendiri “Cintaku bertepuk sebelah tangan”.

Dan terdengar semakin menggelegar dalam lagu kritikal bertajuk Pengkhianat. Apalagi ada lead guitar dari Sang Legendaris, Eet Sjahrani, yang menyayat.

Kemudian, keunggulan ketiga adalah Jibonez, sebagai pengganti Tommy, mencoba mengulik kembali isian gitar dari Tommy, yang telah meletakkan dasar komposisi musik L7. Hasilnya, Jobinez, berhasil membuat warna baru; “Rock to Metal”, untuk Lawang Pitu.

Keunggulan keempat, adalah “aransemen”, yang dikemas dengan pola yang terdengar berbeda.

Dengarkan saja komposisi lagu Semangat Juang Pertiwi, yang kelak bisa menjadi Anthem Song atau lagu tema bagi Lawang Pitu. Mood lagu yang riang, dengan lirik nan lugas. Menyelipkan kegelisahan dengan narasi “NKRI, Harga Mati!”

Keunggulan kelima ada pada Bassist dan Drummer. Keduanya adalah penjaga pola rhythm dalam semua komposisi lagu Lawang Pitu. ACC dan Arief, bersama membangun groove ditengah hingar bingar suara distorsi, seperti dalam lagu Dagelan dan Pengkhianat.

Keunggulan keenam, adalah “aransemen”, yang dikemas dalam konsep musikal yang terdengar berbeda, jika dibandingkan dengan karya-karya band rock dan metal lainnya di Tanah Air.

Semua notasi lagu dan lirik, diciptakan bersama, antara personel: Tommy, Sadtriyo, Arif dan Asisi. Kecuali lagu Takdir liriknya ditulis Trison dan lagu Ditikam Badai liriknya ditulis Sadtriyo. Dan lirik dan lagu Semangat Juang Pertiwi, ciptaan Trison, ACC, Jibonez, Sadtriyo dan Arief.

Akhirnya, melengkapi keseluruhan rekaman album Anugerah Harmoni yang berlangsung di Private Atudio Lawang Pitu, ACC Records (ACC Studio Galaxy), mesti diakui, 10 track lagu semuanya terdengar proporsional, sebagai sebuah karya musik “rock to metal” karena audio yang mendukung, dari hasil mixing-mastering oleh Bayu Randu, kecuali lagu Semangat Juang Pertiwi, dimixing dan mastering oleh Stephanus Santoso.(By BA)

Resensi: by Buddy Ace | Pengamat Musik Indonesia

Editor: by OKL

Categories: Musik Nasional
Library Post: Oktavianus Klau Lekik, M.Med.Kom. is a Social Architect, Researcher, and the Founder of OKL Foundation. With a 19-year career in strategic communication, he is currently a Research Presenter at the University of Oxford (2026). His work bridges global academic frameworks from University of Amsterdam, Leiden University to Harvard University with grassroots social innovation in Indonesia's frontier. Connect with him on LinkedIn