X
BRIDGING WORLDS: HOW CONTEMPORARY EUROPEAN CINEMA FOUND A DEVOTES HOME IN INDONESIA
A full house at Cinepolis Senayan Park, Jakarta, during the closing ceremony of Europe on Screen 2026. The 11-day festival expanded its reach to eight cities across Indonesia (doc. By EoS 2026) Librarypost.com Jakarta | Inside the dimly lit theaters of Senayan Park, the quiet rustle of a closing crowd marked the end of an ambitious…
VOICE FROM MARGINS: INDONESIA’S NEW WAVE OF FILMMAKERS PREMIERES AT EUROPE ON SCREEN
Emerging Indonesian directors celebrate the global debut of their Short Film Pitching Project (SFPP) winning films at Erasmus Huis, Jakarta (doc. By EoS 2026) Libraryppst.com Jakarta | In a cinematic landscape often dominated by commercial blockbusters, a quieter, deeply personal cinematic revolution is taking root in Indonesia. Europe on Screen (EoS) 2026 officially unveiled the highly…
BEYOND THE SCREEN: EUROPE’S LONGEST RUNNING FILM FESTIVAL IN INDONESIA RECLAIMS THE POWER OF SHARED HUMANITY
Mr. Stéphane Mechati, Chargé d’Affaires a.i. of the European Union Delegation to Indonesia, delivering the opening address at the 2026 Europe on Screen Film Festival in Jakarta (doc. By EoS 2026). Librarypost.com Jakarta | Against the backdrop of an increasingly fractured global landscape, cinema’s power to bridge deep cultural divides took center stage on Thursday evening. The…

MIMPILAH BESAR, KAKA VINO!

 

Vino, SmartKids penjual roti kukus keliling perkampungan (ft. OKL)

Librarypost.com Malaka / Dalam usia yang masih muda, Adrianus Vino Nahak, atau biasa disapa Vino, telah menunjukkan semangat dan keberanian yang luar biasa. Siswa kelas VI SDK Tahak ini tidak hanya fokus pada pendidikannya, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial dan berusaha keras untuk membantu keluarganya.

Setiap pagi, Vino dan sepupu-sepunya dapat ditemukan berjualan roti kukus di sepanjang perkampungan Desa Railor. Dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu 1000 rupiah per kue, mereka berusaha keras untuk mengumpulkan uang untuk kebutuhan sekolah dan membantu keluarganya.

Vino tinggal bersama neneknya, karena kedua orang tuanya telah berpisah. Ia tidak pernah melihat sosok ibunya, yang pergi meninggalkannya ketika ia masih bayi. Namun, hal ini tidak membuatnya menyerah. Ia tetap semangat dan berusaha keras untuk mencapai mimpinya.

“Menjadi tentara adalah cita-cita saya, karena saya ingin membela negara,” kata Vino dengan percaya diri.

Vino dan sepupunya sedang berjualan Roti Kukus di perkampungan (ft. OKL)

Vino juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti menjadi sukarelawan di posko bencana Tahak Debunaruk saat banjir bandang di Malaka 4 April lalu. Ia juga pintar dalam menari bidu dan Haksoke, tarian daerah Malaka, dan sering sukarela menari di acara-acara adat dan pernikahan.

Kisah Vino ini sangat menginspirasi, karena ia telah menunjukkan bahwa dengan semangat dan keberanian, kita dapat mencapai apa pun yang kita inginkan. Ia juga membuktikan bahwa anak-anak pesisir dapat membuat perbedaan besar dalam masyarakat.

Vino mengatakan bahwa hasil penjualan kue ini akan digunakan untuk membelikannya seragam sekolah SMP nanti, ikat pinggang, membayar uang sekolahnya dan sepupu-sepunya. Ia juga berharap dapat terus membantu berjualan sehingga bisa membantu kebutuhan sekolahnya untuk melanjutkan pendidikannya di SMP kelak.

Semoga mimpi Vino terwujud kelak, dan ia dapat menjadi contoh bagi anak-anak pesisir lainnya untuk selalu berusaha keras dan tidak menyerah dalam mencapai cita-cita mereka.

Dengan semangat dan keberanian yang dimiliki Vino, kita dapat yakin bahwa ia akan mencapai mimpinya dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Mari kita dukung dan berikan motivasi kepada anak-anak pesisir seperti Vino untuk terus berusaha keras dan mencapai cita-cita mereka! (BY OKL)

Library Post: Oktavianus Klau Lekik, M.Med.Kom. is a Social Architect, Researcher, and the Founder of OKL Foundation. With a 19-year career in strategic communication, he is currently a Research Presenter at the University of Oxford (2026). His work bridges global academic frameworks from University of Amsterdam, Leiden University to Harvard University with grassroots social innovation in Indonesia's frontier. Connect with him on LinkedIn